Thursday, November 17, 2016

Praktikum Analisis Specific Gravity & Penyerapan Agregat Halus

Tujuan
Menentukan specific gravity dan penyerapan agregat halus.

Alat & Bahan
a.    Timbangan dena ketelitian 0,1 gram atau kurang yang mempunyai kapasitas minimum sebesar 1000 gram atau lebih
b.    Piknometer dengan kapasitas 500 gram
c.    Cetakan kerucut pasir
d.   Tongkat pemadat dari logam untuk cetakan kerucut pasir

Prosedur Percobaan
a.    Agregat halus yang jenuh air dikeringkan sampai diperoleh kondisi kering dengan indikasi contoh tercurah dengan baik
b.    Sebagian dari contoh dimasukkan dalam metal sand cone mold.Benda uji dipadatkan dengan tongkat pemadat (tamper). Jumlah tumbukan adalah 25 kali. Kondisi SSD diperoleh, jika cetak diangkat, butir-butir pasir longsor/runtuh
c.    Contoh agregat halus sebesar 500 gram dimasukkan ke dalam piknometer. Kemudian piknometer diisi dengan air sampai 90% penuh. Bebaskan gelembung-gelembung udara dengan cara menggoyang-goyangkan piknometer, rendamlah piknometer dengan suhu air (73,4±3)oF selama 24 jam. Timbang berat piknometer yang berisi contoh dengan air.
d.   Pisahkan benda uji dari piknometer dan keringkan pada suhu (213±130)oF. Langkah ini harus diselesaikan dalam waktu 24 jam (1 hari).
e.    Timbanglah berat piknometer yang berisi air sesuai dengan kapasitas kalibrasi pada temperatur (73,4±3)oF dengan ketelitian 0,1 gram.

Hasil
Observasi I ( Kelompok 6 )
A
Berat piknometer
 173 gram
B
Berat contoh kondisi SSD
 500 gram
C
Berat piknometer + air + contoh SSD
 956 gram
D
Berat piknometer + air
 669 gram
E
Berat contoh kering
 473 gram
Apparent Specific Gravity = E/(E+D-C)
 2,543
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering = E/(B+D-C)
 2,220
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD = B/(B+D-C)
 2,347
Persentase absorpsi = (B-E)/E x 100%
 5,708 %
Observasi II ( Kelompok 1 )
A
Berat piknometer
172 gram 
B
Berat contoh kondisi SSD
500 gram
C
Berat piknometer + air + contoh SSD
954 gram 
D
Berat piknometer + air
 669 gram
E
Berat contoh kering
 476 gram
Apparent Specific Gravity = E/(E+D-C)
 2,505
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering = E/(B+D-C)
 2,224
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD = B/(B+D-C)
 2,336
Persentase absorpsi = (B-E)/E x 100%
 5,042 %
Rata-Rata
Apparent Specific Gravity
 2,524
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering
 2,222
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
 2,3415
Persentase absorpsi
 5,375 %

Analisis
Berdasarkan hasil percobaan, kita harus meninjau 2 kondisi, yaitu kondisi kering dan kondisi SSD. Kondisi kering adalah kondisi agregat yang telah dimasukkan ke dalam oven sehingga mengalami pemanasan sehingga bagian dalam dan luar agregat sepenuhnya kering. Kondisi SSD adalah kondisi permukaan luar agregat dalam keadaan kering namun bagian dalam agregat masih terdapat kandungan air diantara rongga-rongganya. Pada kenyataannya akan sulit untuk mendapatkan agregat yang berada dalam kondisi kering sepenuhnya, sehingga kita perlu mengetahui presentase penyerapan air dari agregat tersebut. Kondisi yang biasa digunakan adalah kondisi SSD. Dengan mengetahui presentase absorpsi air dari agregat tersebut, maka akan mudah menentukan jumlah air yang perlu ditambahkan agar dapat melakukan mix design yang tepat.


Praktikum Analisis Specific Gravity & Penyerapan Agregat Kasar

Tujuan
Menentukan specific gravity dan penyerapan agregat kasar.

Alat & Bahan
a.    Timbangan dengan ketelitian 0,5 gram yang mempunyai kapasitas 5 kg
b.    Keranjang besi diameter 203,2 mm dan tinggi 63,5 mm
c.    Alat penggantung keranjang
d.   Handuk atau kain pel

Prosedur Percobaan
a.    Benda uji direndam selama 24 jam
b.    Benda uji dikeringkan permukannya (kondisi SSD) dengan menggulungkan handuk pada butiran
c.    Timbang contoh. Hitung berat contoh kondisi SSD = A
d.   Contoh benda uji dimasukkan ke keranjang dan direndam kembali di dalam air. Temperatur air dijaga (73,4±3)oF, dan kemudian ditimbang, setelah dikeranjang digoyang-goyangkan di dalam air untuk melepaskan udara yang terperangkap. Hitung berat contoh kondisi jenuh = B
e.    Contoh dikeringkan pada temperatur (212-130)oF. Setelah didinginkan kemudian ditimbang. Hitung berat contoh kondisi kering = C

Hasil
Observasi I ( Kelompok 6 )
A. Berat contoh SSD
 2855 gram
B. Berat contoh dalam air
 1717 gram
C. Berat contoh kering udara
 2689 gram
Apparent Specific Gravity = C/C(C-B)
 2,766
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering = C/(A-B)
 2,362
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD = A/(A-B)
 2,508
Presentase absorpsi air = (A-C)/C x 100%
 6,173 %
Observasi II ( Kelompok 1 )
A. Berat contoh SSD
 3000 gram
B. Berat contoh dalam air
 1771 gram
C. Berat contoh kering udara
 2795 gram
Apparent Specific Gravity = C/C(C-B)
 2,729
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering = C/(A-B)
 2,274
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD = A/(A-B)
 2,441
Presentase absorpsi air = (A-C)/C x 100%
 7,33 %
Rata-Rata
Apparent Specific Gravity
 2,7475
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering
 2,318
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
 2,4745
Presentase absorpsi air
 6,7515 %

Analisis

Pada percobaan kali ini, kita telah mengukur persentase absorpsi air yang diperoleh dari persentase pengurangan berat air dari keadaan SSD ke keadaan kering. Persentase absorpsi air ini akan digunakan sebagai pedoman untuk melakukan pencampuran beton. Semakin kecil persentase absorpsi, semakin sedikit air yang perlu untuk ditambahkan. Sebaliknya, semakin besar persentase absorpsi, semakin banyak air yang perlu ditambahkan. Selain itu, kita harus mencari bulk specific gravity dari kedua kondisi yang berbeda agar dapat melakukan pencampuran beton dengan tepat.

Praktikum Analisis Kadar Lumpur Dalam Agregat Halus

Tujuan
Menentukan besarnya (persentase) kadar lumpur dalam agregat halus yang digunakan sebagai campuran beton. Kandungan lumpur <5% merupakan ketentuan bagi penggunaan agregat halus untuk pembuatan beton.
Alat & Bahan
Alat :
a.    Gelas ukur
b.    Alat pengaduk

Benda Uji :
Contoh pasir secukupnya dalam kondisi lapangan dengan bahan pelarut biasa.

Prosedur Percobaan
a.    Contoh benda uji dimasukkan ke dalam gelas ukurr
b.    Tambahkan air pada gelas ukur guna melarutkan lumpur
c.    Gelas dikocok untuk mencuci agregat halus dari lumpur
d.   Simpan gelas pad tempat yang datar dan biarkan lumpur mengendap setelah 24 jam
e.    Ukur tinggi pasir (V1) dan tinggi lumpur (V2)

Hasil
           


Tinggi Lumpur = 4
Tinggi Pasir = 168
Kadar Lumpur = 4/(4+168) x 100% = 2,32%

Analisis

Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan bahwa kadar lumpur sebesar 2,32%. Berdasarkan ketentuan bagi penggunaan agregat halus untuk pembuatan beton adalah < 5%. Disimpulkan bahwa kadar lumpur dalam agregat halus sudah sesuai standar.

Praktikum Pemeriksaan Zat Organik Dalam Agregat Halus

Tujuan
Mengetahui kadar organik yang terkandung dalam agregat halus.

Alat & Bahan
a.    Botol gelas tembus pandang dengan penutup karet atau gabus atau bahan penutup lainnya yang tidak bereaksi dengan NaOH. Volume gelas = 350 ml
b.    Standar warna (Organic Plate)
c.    Larutan NaOH (350 ml)

Bahan Uji:
Contoh pasir dengan volume 115 ml (1/3 volume botol)

Prosedur Percobaan
a.    Masukkan 115 ml pasir ke dalam botol tembus pandang (kurang lebih 1/3 isi botol)
b.    Tambahkan larutan NaOH 3%. Setelah dikocok, isinya harus mencapai kira-kira ¾ volume botol
c.    Tutup botol gelas tersebut dan kocok hingga lumpur yang menempel pada agregat nampak terpisah dan biarkan selama 24 jam agar lumpur tersebut mengendap.
d.   Setelah 24 jam, bandingkan warna cairan yang terlihat dengan standar warna No.3 pada organic plate. ( Bandingkan apakah lebih tua atau lebih muda )

Hasil   

Setelah 24 jam didapatkan bahwa warna cairan sama dengan standar warna nomor 3.

Analisis
Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan bahwa warna cairan sama dengan standar warna nomor 3. Disimpulkan bahwa agregat halus tidak melebihi toleransi.