Sunday, December 4, 2016

ANALISIS MATERIAL PENYUSUN GEDUNG T.P. RAHMAT

Saya mengasumsikan jenis pondasi yang digunakan gedung T.P. Rahmat adalah menggunakan pondasi bored pile. Asumsi ini di ambil dengan melihat bentuk kolom bangunan dan ukuran bangunan yang bisa dibilang massive, selain itu pondasi bored pile juga biasa digunakan untuk bangunan yang memiliki ketinggian empat lantai atau lebih. 

 Untuk bagian dinding sekat antar ruangan pada gedung T.P. Rahmat ini terlihat jelas bahwa gedung ini menggunakan bata sebagai material utama pembentuknya bukan batako maupun papan gypsum, karena melihat ketebalan dinding sekat tidak memungkinkan jika tersusun dari batako juga saat dinding diketuk tidak berbunyi seperti saat mengetuk papan gypsum (meskipun ada beberapa ruangan yang dipisahkan hanya dengan papan gypsum). Sedangkan untuk balok dan kolom bangunan ini menggunakan struktur beton bertulang. Untuk atap bangunan di topang oleh baja ringan yang tersambung kepada kolom dan balok bangunan.

Dari analisis diatas saya menyimpulkan proporsi material dari gedung T.P. Rahmat ini adalah : 60% beton bertulang, 25% bata, dan 15% baja ringan

 Setelah mengetahui material pembentuk gedung T.P. Rahmat, sekarang saya ingin memaparkan proses pembentukan material-materialnya. 

Bata
 

Dalam pembuatan batu bata ada 3 tahap yaitu sebagai berikut : 

1.      Tahap penghalusan :
Tanah merah dimasukan ke dalam wadah yang telah disediakan, sebelum dimasukan wadah tersebut diisi  dengan air, selanjutnya tanah dimasukan dan diinjak-injak sampai halus.

2.     Tahap percetakan :
Tanah Merah yang sudah dihaluskan sehingga membentuk tanah liat, setelah itu dimasukan kedalam tempat pencetakan (Forong) yang berukuran panjang 10cm dan Lebar 7cm. Setelah dimasukan kedalam cetakan dan di padatkan dengan cara menakan dengan menggunakan tangan, rapikan permukaan corong menggunakan bambu, setelah itu dibagi menjagi tiga bagian dengan cara dipotong dengan menggunakan  benang boflang. Berikut gambar proses pemasukan tanah liat dan proses perapian permukaan corong.         
 Selanjutnya keluarkan dari cetakan ke tempat yang telah disediakan. Selanjutnya dikeringkan dengan cara menyusun batu bata yang diberi sedikit jarak agar angin dapat masuk. pada musim panas proses pengeringan bisa memakan waktu ± 1 sampai 2 bulan, proses pengeringan juga bergantung dari cuaca. Pengeringan dilakukan dengan cara menyusun bata dengan diberi cela.

3.     Tahap Pembakaran :
     Pembakaran batu bata berlangsung di oven yang terbuat dari batu bata yang direkatkan menggunakan tanah liat itu sendiri. Pembakaran menggunakan kayu yang keras seperti : kayu mangga, kenari, linggua dan kayu yang keras lainnya. Proses pembakaran berlangsung selama 2 hari, yaitu 2 siang dan 2 malam. Apabila  tinggi tempat pembakaran kurang dari 4 meter bisa menampung 6000 bata. selanjutnya batu yang telah diuapkan hingga temperatur suhu naik/tinggi, setelah itu didinginkan dan dikeluarkan melewati pintu Oven yang berada di samping.

       

Baja Ringan
  
        Untuk baja tipis atau baja ringan, proses yang dikenakan dikenal dengan pembentukan dingin atau Cold Forming dan hasilnya biasa dikenal dengan Cold Formed Section. Dalam pembentukan ini pelat baja dalam konsdisi suhu kamar akan dibentuk. Metode pembentukan yang biasa dilakukan adalah:

1. Press Brake
          Proses pembentukan press-brake dilakukan menekuk pelat baja. Pelat baja diletakkan ke dalam alat ini dan ditekuk bagian-bagiannya secara bertahap hingga menjadi bentuk yang diiingkan.
          Kelebihan dari proses ini adalah bentuk profil dapat dibuat sesuai keinginan selama alat atau tooling tersedia. Apalagi dengan alat yang moderen yang terkomputerisasi, mesin press-brake sudah menjadi mesin CNC dengan adanya lengan penahan yang akan bergerak sesuai dengan bentuk yang telah di-masukkan ke dalam program. Mesin baru ini juga telah dilengkapi anti-crowning sehingga bentuk profil yang panjang tidak akan melengkung akibat proses penekukan.
           Kekurangan proses ini adalah dalam produktivitas menghasilkan produk dan tidak mampunya membentuk tekukan kecil yang terhalang oleh tekukan lain. Produktivitasnya sangat rendah jika ingin membentuk profil secara masal, karena prosess untuk pembuatan satu bentuk harus diulang-ulang tekukannya. 

2. Roll Forming
          Proses roll forming dilakukan dengan melewatkan pelat baja ke dalam serangkaian roll hingga produk yang diinginkan tercapai.  Mesin roll forming yang baru sudah terkomputerisasi sehingga dapat melubangi, dan mencetak label di ujung proses setelah profil terbentuk.
          Produktivitas proses roll forming sangatlah tinggi sehingga dalam waktu singkat profil dapat segera terbentuk, itulah kelebihannya.
Namun kekurangannya adalah satu mesin dengan roll set yang telah disiapkan hanya dapat membuat satu bentuk yang telah ditetapkan sehingga harus memesan mesin baru jika menginginkan bentuk baru meski hanya sekedar menambah tekukan atau lipatan.

3. Punching
          Proses ketiga adalah proses pembentukan dengan menggunakan mesin punch atau mesin pons. Pelat baja disimpan di atas die-set dan kemudian proses punching dengan tekanan tinggi akan melubangi dan membentuk pelat baja tersebut. Proses ini biasa dilakukan pada pembuatan aksesoris atau komponen-komponen kecil dari baja ringan. 


Thursday, November 17, 2016

Praktikum Analisis Specific Gravity & Penyerapan Agregat Halus

Tujuan
Menentukan specific gravity dan penyerapan agregat halus.

Alat & Bahan
a.    Timbangan dena ketelitian 0,1 gram atau kurang yang mempunyai kapasitas minimum sebesar 1000 gram atau lebih
b.    Piknometer dengan kapasitas 500 gram
c.    Cetakan kerucut pasir
d.   Tongkat pemadat dari logam untuk cetakan kerucut pasir

Prosedur Percobaan
a.    Agregat halus yang jenuh air dikeringkan sampai diperoleh kondisi kering dengan indikasi contoh tercurah dengan baik
b.    Sebagian dari contoh dimasukkan dalam metal sand cone mold.Benda uji dipadatkan dengan tongkat pemadat (tamper). Jumlah tumbukan adalah 25 kali. Kondisi SSD diperoleh, jika cetak diangkat, butir-butir pasir longsor/runtuh
c.    Contoh agregat halus sebesar 500 gram dimasukkan ke dalam piknometer. Kemudian piknometer diisi dengan air sampai 90% penuh. Bebaskan gelembung-gelembung udara dengan cara menggoyang-goyangkan piknometer, rendamlah piknometer dengan suhu air (73,4±3)oF selama 24 jam. Timbang berat piknometer yang berisi contoh dengan air.
d.   Pisahkan benda uji dari piknometer dan keringkan pada suhu (213±130)oF. Langkah ini harus diselesaikan dalam waktu 24 jam (1 hari).
e.    Timbanglah berat piknometer yang berisi air sesuai dengan kapasitas kalibrasi pada temperatur (73,4±3)oF dengan ketelitian 0,1 gram.

Hasil
Observasi I ( Kelompok 6 )
A
Berat piknometer
 173 gram
B
Berat contoh kondisi SSD
 500 gram
C
Berat piknometer + air + contoh SSD
 956 gram
D
Berat piknometer + air
 669 gram
E
Berat contoh kering
 473 gram
Apparent Specific Gravity = E/(E+D-C)
 2,543
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering = E/(B+D-C)
 2,220
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD = B/(B+D-C)
 2,347
Persentase absorpsi = (B-E)/E x 100%
 5,708 %
Observasi II ( Kelompok 1 )
A
Berat piknometer
172 gram 
B
Berat contoh kondisi SSD
500 gram
C
Berat piknometer + air + contoh SSD
954 gram 
D
Berat piknometer + air
 669 gram
E
Berat contoh kering
 476 gram
Apparent Specific Gravity = E/(E+D-C)
 2,505
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering = E/(B+D-C)
 2,224
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD = B/(B+D-C)
 2,336
Persentase absorpsi = (B-E)/E x 100%
 5,042 %
Rata-Rata
Apparent Specific Gravity
 2,524
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering
 2,222
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
 2,3415
Persentase absorpsi
 5,375 %

Analisis
Berdasarkan hasil percobaan, kita harus meninjau 2 kondisi, yaitu kondisi kering dan kondisi SSD. Kondisi kering adalah kondisi agregat yang telah dimasukkan ke dalam oven sehingga mengalami pemanasan sehingga bagian dalam dan luar agregat sepenuhnya kering. Kondisi SSD adalah kondisi permukaan luar agregat dalam keadaan kering namun bagian dalam agregat masih terdapat kandungan air diantara rongga-rongganya. Pada kenyataannya akan sulit untuk mendapatkan agregat yang berada dalam kondisi kering sepenuhnya, sehingga kita perlu mengetahui presentase penyerapan air dari agregat tersebut. Kondisi yang biasa digunakan adalah kondisi SSD. Dengan mengetahui presentase absorpsi air dari agregat tersebut, maka akan mudah menentukan jumlah air yang perlu ditambahkan agar dapat melakukan mix design yang tepat.


Praktikum Analisis Specific Gravity & Penyerapan Agregat Kasar

Tujuan
Menentukan specific gravity dan penyerapan agregat kasar.

Alat & Bahan
a.    Timbangan dengan ketelitian 0,5 gram yang mempunyai kapasitas 5 kg
b.    Keranjang besi diameter 203,2 mm dan tinggi 63,5 mm
c.    Alat penggantung keranjang
d.   Handuk atau kain pel

Prosedur Percobaan
a.    Benda uji direndam selama 24 jam
b.    Benda uji dikeringkan permukannya (kondisi SSD) dengan menggulungkan handuk pada butiran
c.    Timbang contoh. Hitung berat contoh kondisi SSD = A
d.   Contoh benda uji dimasukkan ke keranjang dan direndam kembali di dalam air. Temperatur air dijaga (73,4±3)oF, dan kemudian ditimbang, setelah dikeranjang digoyang-goyangkan di dalam air untuk melepaskan udara yang terperangkap. Hitung berat contoh kondisi jenuh = B
e.    Contoh dikeringkan pada temperatur (212-130)oF. Setelah didinginkan kemudian ditimbang. Hitung berat contoh kondisi kering = C

Hasil
Observasi I ( Kelompok 6 )
A. Berat contoh SSD
 2855 gram
B. Berat contoh dalam air
 1717 gram
C. Berat contoh kering udara
 2689 gram
Apparent Specific Gravity = C/C(C-B)
 2,766
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering = C/(A-B)
 2,362
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD = A/(A-B)
 2,508
Presentase absorpsi air = (A-C)/C x 100%
 6,173 %
Observasi II ( Kelompok 1 )
A. Berat contoh SSD
 3000 gram
B. Berat contoh dalam air
 1771 gram
C. Berat contoh kering udara
 2795 gram
Apparent Specific Gravity = C/C(C-B)
 2,729
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering = C/(A-B)
 2,274
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD = A/(A-B)
 2,441
Presentase absorpsi air = (A-C)/C x 100%
 7,33 %
Rata-Rata
Apparent Specific Gravity
 2,7475
Bulk Specific Gravity Kondisi Kering
 2,318
Bulk Specific Gravity Kondisi SSD
 2,4745
Presentase absorpsi air
 6,7515 %

Analisis

Pada percobaan kali ini, kita telah mengukur persentase absorpsi air yang diperoleh dari persentase pengurangan berat air dari keadaan SSD ke keadaan kering. Persentase absorpsi air ini akan digunakan sebagai pedoman untuk melakukan pencampuran beton. Semakin kecil persentase absorpsi, semakin sedikit air yang perlu untuk ditambahkan. Sebaliknya, semakin besar persentase absorpsi, semakin banyak air yang perlu ditambahkan. Selain itu, kita harus mencari bulk specific gravity dari kedua kondisi yang berbeda agar dapat melakukan pencampuran beton dengan tepat.

Praktikum Analisis Kadar Lumpur Dalam Agregat Halus

Tujuan
Menentukan besarnya (persentase) kadar lumpur dalam agregat halus yang digunakan sebagai campuran beton. Kandungan lumpur <5% merupakan ketentuan bagi penggunaan agregat halus untuk pembuatan beton.
Alat & Bahan
Alat :
a.    Gelas ukur
b.    Alat pengaduk

Benda Uji :
Contoh pasir secukupnya dalam kondisi lapangan dengan bahan pelarut biasa.

Prosedur Percobaan
a.    Contoh benda uji dimasukkan ke dalam gelas ukurr
b.    Tambahkan air pada gelas ukur guna melarutkan lumpur
c.    Gelas dikocok untuk mencuci agregat halus dari lumpur
d.   Simpan gelas pad tempat yang datar dan biarkan lumpur mengendap setelah 24 jam
e.    Ukur tinggi pasir (V1) dan tinggi lumpur (V2)

Hasil
           


Tinggi Lumpur = 4
Tinggi Pasir = 168
Kadar Lumpur = 4/(4+168) x 100% = 2,32%

Analisis

Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan bahwa kadar lumpur sebesar 2,32%. Berdasarkan ketentuan bagi penggunaan agregat halus untuk pembuatan beton adalah < 5%. Disimpulkan bahwa kadar lumpur dalam agregat halus sudah sesuai standar.